Tuesday, May 26, 2009 - Barcelona versus Manchester United, Seniman Lawan Arsitek
Tak ada yang menyana garis tangan kehidupan. Bahkan Jorge Messi, kelak
setelah memperkenalkan belantara sepakbola kepada putranya yang baru
berusia lima tahun, di salah satu pojok jalan tempat kelahirannya di
Rosario, kota pesisir Argentina, 300 km arah barat daya Buenos Aires.
Hatinya merasakan bakat sang buah hati, namun masa kecil bocah lucu
bernama Lionel Andres itu penuh dengan drama.
Pada usia delapan, Messi kecil direkrut sang ayah bergabung dengan klub
sepakbola miliknya, Grandoli. Aura bakatnya kemudian mengantar Lionel
alias Leo masuk klub terkemuka kota Rosario, Newells Old Boys pada
usia sebelas.
Aksinya mulai mendulang decak kagum bersamaan dengan diagnosa medis
yang memvonis dirinya mengidap defisiensi hormon pertumbuhan yang harus
ditangani dengan sangat serius atau berhenti mencoba prospek di
sepakbola.
Sayangnya klub tersebut akhirnya dengan berat hati melepas Leo ke
tangan raksasa FC Barcelona, karena tak sanggup membiayai terapi hormon
Lionel yang menghambat pertumbuhan tinggi badan sang bocah.
Pada usia duabelas Jorge dan keluarga Messi hijrah ke Barcelona,
ibukota orang-orang Katalunya yang indah dan semerbak aroma setiap
ruang yang ditinggalkan gadis-gadisnya.
Setelah terapi atas Leo berhasil, bocah dengan tinggi 169 cm itu lalu
bergabung ke Barcelona B dan mulai merintis daya sihir bola dari kedua
kaki, kepala dan seluruh gestur tubuhnya. Seperti mendiang Stevie Ray
Vaughan, gitaris blues yang dikagumi semua musikus prestisius papan
atas, katakan Miles Davies, BB King, Eric Clapton dan Bono. Nada dan
harmoni mengalir, dan menyatu dalam nafas dan darahnya, komentar
gitaris blues legendaris Buddy Guy.
Seperti itulah Leo, menurut Maradona, dan bahkan kata Cristiano Ronaldo
dengan sportif, seterunya yang akan dihadapinya dinihari nanti.
Aktor Hollywood asal Malaga yang juga penggemar berat sepakbola,
Antonio Banderas, hanya dapat termanggu menonton kesebelasan Barca
menggilas Sevilla dari boks Direktur Nou Camp.
Saya rasa kali ini Barcelona tak dapat dihentikan oleh siapapun,
mereka akan meraih tiga trofi tahun ini. Termasuk kampiun Eropa,
komentar Banderas meyakinkan. Kali ini entah bagian dari akting, atau
memang kagum sebagai sesama berdarah Spanyol.
Seperti pejuang-pejuang Catalan lain yang mungkin turun dalam starting
11, macam Viktor Valdez, Carles Puyol, Yaya Toure, Andres Iniesta,
Thierry Henry, Etoo dan tentunya Xavi Hernandes, mereka semua mewakili
darah sepakbola dalam nadinya.
Mereka terlahir dalam jiwa the art of soccer. Mereka adalah
seniman-seniman bola yang ditakdirkan untuk memberi hiburan dengan H
besar pada masyarakat yang mungkin melihat perang ini sebagai bentuk
lain dari neo-gladiator yang bertarung untuk sebentuk kejayaan di tanah
lapang Olimpico de Roma, di hadapan 82.700 penonton dan ratusan juta
pasang mata di depan layar kaca.
Di arena yang menjanjikan supremasi sepakbola Eropa itulah
petarung-petarung bola dari negeri yang lembab, tanah orang-orang
Anglo-Saxon, dari Kerajaan Inggris Raya, hadir menantang kecanggihan
anak-anak Barcelona menggoreng dan menggocek habis si kulit bundar.
Di bawah komando Alex Ferguson, panglima veteran Piala Champions,
mereka datang untuk mempertahankan hegemoni sepakbola Eropa tahun silam
yang mereka genggam erat-erat.
Bek kiri United, Patrice Latyr Evra, pagi-pagi sudah merentangkan kapak
perang dan siap berkalang tanah ketimbang membiarkan Messi, Xavi dan
Iniesta dan kawan-kawannya memasuki wilayah kesebelasannya.
Di klub makmur seperti Manchester United, seni sepakbola modern
diterjemahkan ke dalam pola yang diracik dengan teliti oleh sang
godfather, Fergie, begitu dia disapa.
Mereka eksis karena Fergie, berhasil menggembleng orang-orang macam
David Beckham, Eric Cantona, Paul Scholes, Steve Bruce, Peter
Schemeikel, Solsjaer, Giggs, dan tentu angkatan Ronaldo seperti Wayne
Rooney, Michael Carrick, Park Ji-Sung, Dimitar Berbatov, Evra, Nemenja
Vidic, Rio Ferdinand dan tentu si gaek Edwin Van der Sar, menjadi
petarung yang mengerti sekaligus seni bola dan membaca siasat yang
dirancang sang arsitek Fergie.
Selain Liverpool, Arsenal dan juga (coba) dilakukan Totenham Hotspur,
maka hanya Manchester United yang sungguh-sungguh berhasil memadukan
power khas sepakbola Inggris dengan sentuhan satu-dua apabila
dibutuhkan, untuk membalas serangan bertubi-tubi lawan.
Fergie berjanji akan menghamparkan bagaimana sepakbola indah yang
taktis disajikan untuk menjinakkan seni sepakbola Barcelona yang telah
merebut hati dunia. Final nanti akan menghasilkan banyak gol katanya
tanpa merinci siapa yang menang.
Sehingga pantaslah jika clash dua raksasa ini, disetarakan dengan
pertempuran seniman bola Belanda versus arsitek-arsitek bola Jerman
Barat (secara nasional) pada final Piala Dunia 1974. Atau perang Brasil
melawan Denmark dalam perdelapan Piala Dunia 1998 di Perancis. Atau
final Piala Eropa 1988 antara Belanda versus Uni Soviet, yang semuanya
sungguh-sungguh memanjakan mata dan membahagiakan langsung penonton di
stadion dan ratusan juta di layar kaca global.
Kompetisi atau kejuaraan memang terpaksa membuat para peracik dan
arsitek di belakang layar meramu taktik dan strategi untuk menjadi
juara. Namun apalagi yang harus diracik jika kedua finalis sudah berada
di partai puncak.
Mereka wajib mempertontonkan sepakbola bermutu tinggi, serancak
mungkin, atas nama peradaban sepakbola demi perdamaian dunia dan
menanamkan rasa sportivitas dan penghormatan pada mereka yang
terjerembab dalam kekalahan.
Jika United berjaya, maka Barcelona tak perlu berkecil hati, karena
mereka dapat bersyukur setidaknya berterima kasih kepada wasit Ovrebo
dari Norwegia yang ikut membantu mereka dapat hadir di final.
Sebaliknya jika United terjungkal maka sang arsitek tak perlu terbenam
dalam duka karena apa yang telah dicapainya adalah puncak karir, yang
sejauh ini dapat mengangkat gelar Sir nya menjadi Lord. Bukankah dua
gelar domestik telah mereka raih? Begitu juga dengan kesebelasan dari
Katalunya itu.
Partai final tentu bukanlah sirkus, tapi dari sana seharusnya peradaban
juga dapat diukur, bagaimana misalnya desainer terkenal Inggris Paul
Smith yang terlibat memberi sentuhan gentlemen di kostum kebesaran
tandang putih United dicatwalk mereka di Olimpico de Roma. Desainer
yang juga memberi kejayaan pada United di podium juara di Moskwa
setahun silam. Kata Smith, bahagia rasanya melihat kembali kesebelasan
luar biasa ini kembali ke podium juara dengan busana yang kembali
rancang.
Sebelas gladiator berseragam merah darah dan biru vertikal akan
bertempur mati-matian menghadapi gladiator-gladiator berperawakan besar
dari tanah Inggris yang akan mengenakan kostum berwarna putih. Perang
yang mewakili dua poros sepakbola Eropa yang nota bene adalah kiblat
sepakbola dunia itu akan dipimpin oleh pengadil dari Swiss. Namanya
Massimo Busaccha, yang kebetulan juga menjadi pengadil saat Manchester
berhadapan dengan Barcelona pada semifinal Champions leg pertama.
Ini adalah pertikaian dua simbol di Eropa, Barcelona mewakili identitas
demokrasi rakyat. Sesuai dengan slogan mereka Mes Que Un Club (lebih
dari sekadar klub) sebentuk komunitas independen yang menjunjung
kemerdekaan (menentang monarki Spanyol), baik secara politik dan kultur.
Barca menentang menggunakan bagian dada dari kostum kebesaran mereka
dengan pesan sponsor (bahkan mendukung program bagi anak-anak dunia
bekerjasama dengan Unicef), Sementara United bagaimanapun adalah bagian
yang integral dari Kerajaan Inggris Raya yang meletakkan sepakbola
sebagai bagian dari seni pemasaran.
Namun, apapun istilah yang dikenakan kepada perang impian ini, dan
beribu ulasan yang akan membahas skema tunggal yang agresif 4-3-3 yang
diusung anak-anak Barca melawan pola 4-4-2 dari Fergie yang bisa
sekonyong-konyong berubah menjadi 4-4-1-1.
Final pamungkas ini diharapkan menjadi penghapus dahaga dari tontonan
monoton yang diperagakan Manchester ketika bersua klub sepakbola
senegaranya, Chelsea tahun lalu dan beberapa laga final Champions
sebelumnya.
Penonton di seluruh dunia juga berdoa semoga tak ada lagi adu penalti lagi dalam perang kali ini, please
|