Monday, March 17, 2008 - ONNO W. PURBO
Siapa Setuju Onno Menkominfo 2009? Jakarta - Tak bisa dipungkiri lagi kepiawaian Onno W
Purbo di bidang teknologi komunikasi informasi. Bahkan di sebuah acara
komunitas, komedian Tukul pun mendaulatnya sebagai Menteri Komunikasi
dan Informatika untuk 2009.
Yang dimaksud hanya bisa tertawa mendengar namanya didapuk menjadi menteri. "Kan sudah pernah jadi Menkominfo di Republik BBM," ujarnya kepada PLAZAWARNET sambil cengengesan, Senin (17/3/2008).
Jadi,
siapa yang setuju mantan dosen Institut Teknologi Bandung dan penggiat
teknologi komunikasi informasi ini jadi Menkominfo di 2009 mendatang?
Militer Timor Leste Sambangi Workshop TIK Onno Jakarta - Tampaknya pagi merupakan waktu yang menarik
untuk orang berolah raga di Dili. Setiap pagi banyak orang Australia
maupun Timor Leste yang berlari-lari kecil di sepanjang jalan di muka
hotel Dili yang lokasinya di pinggir pantai.
Seperti hari-hari
lainnya, helikopter tampak terbang rendah dan melakukan patroli. Namun
berbeda dengan pagi sebelumnya, bersama Abel Pires koordinator umum
Asosiasi ICT Timor Leste, Lemi, Oscar, kami berangkat menemui Menteri
Pemuda Timor Leste. Beliau membawahi departemen ICT maupun departemen
olah raga.
Tampaknya beliau mengangkat ICT pada
tingkat/prioritas yang lumayan tinggi. Salah satu program beliau adalah
memajukan ICT untuk rakyat di Timor Leste. Semoga ilmu yang diberikan
belakangan kepada teman-teman dari Asosiasi ICT Timor Leste akan dapat
membantu mewujudkan cita-cita beliau.
Sekembali dari kantor
Menteri, program pelatihan rekan-rekan Asosiasi ICT Timor Leste kami
lanjutkan kembali. Pagi ini kami mencoba memfokuskan diri pada network security. Diterangkan teknik serangan ke dalam jaringan komputer, mulai dari sniffing menggunakan Wireshark, membaca paket yang lewat bahkan membaca username password maupun berita e-mail yang lewat di jaringan.
Kami banyak berdiskusi masalah pemalsuan berita dan e-mail. Sampai akhirnya mulai melakukan offensif sederhana seperti port scanning menggunakan NMAP hingga akhirnya memasang backdoor
pada Server Linux. Tentunya teknik serangan tidak akan lengkap jika
tidak diterangkan teknik pertahanan seperti pendeteksian serangan
menggunakan snort hingga konfigurasi firewall iptables baik secara manual maupun di bantu Webmin secara grafik.
Sisa
waktu yang ada kami investasikan untuk melakukan persiapan untuk
melakukan demonstrasi kepada publik tentang teknologi yang kami
pelajari dalam workshop Linux, VoIP dan Wireless yang di-organize oleh Asosiasi ICT Timor Leste.
Cukup
banyak rekan-rekan media maupun dari militer Timor Leste yang hadir
dalam demonstrasi hasil workshop yang dilakukan oleh Asosiasi ICT Timor
Leste. Coverage media pun lumayan banyak, satu hal yang
paling menarik di acara demo ini adalah banyaknya rekan-rekan dari
Militer Timor Leste yang hadir. Hal ini menjadi kesempatan bagi rakyat
biasa dari Indonesia untuk berfoto dengan Militer Timor Leste.
Sore
hari setelah selesai semua acara, kami naik ke bukit di pinggir kota
Dili. Kami dapat melihat kota Dili dari ketinggian juga Istana
Presiden. Kemudian kami turun menuju pantai Dili sebelah timur yang
indah tempat penduduk Dili melepas lelah di hari Sabtu/Minggu.
Pada
1 Februari 2008 kembali ke Indonesia. Alhamdullillah, pengalaman yang
sangat mengesankan bagi seorang rakyat Indonesia biasa saja untuk dapat
menyebarkan ilmu-nya bagi rakyat Timor Leste dengan membawa oleh-oleh
banyak kenangan menarik dah beberapa bungkus kopi Timor yang sangat
terkenal itu.
Webmail Bikin 'Pasukan' TIK Timur Leste Kewalahan Jakarta - Hari ke dua training rekan-rekan Asosiasi
ICT Timor Leste ternyata terbukti membuat kepala pusing banyak peserta.
Diawali dengan sebuah topik yang berat, yaitu membuat sendiri Webmail
di masing-masing komputer Ubuntu. Yang membuat kesulitan menjadi sangat
tinggi adalah Webmail yang dibuat harus dapat berkomunikasi dengan
komputer lain, saling berkirim e-mail.
Langkah awal yang membuat
semua orang pusing adalah memastikan bahwa komputer kita mempunyai
domain/nama yang benar. Cara yang dilakukan adalah menjalankan DNS
Server dengan cara menginstalasi bind9. Agar proses konfigurasi dapat
dilakukan dengan mudah maka konfigurasi dapat dilakukan menggunakan
Webmin.
Pada masing-masing server dipastikan harus mempunyai
domain sendiri, yang memiliki entri A (Address), NS (Name Server) dan
MX (Mail Exchange). Untuk melakukan test di edit file /etc/resolv.conf
dan di isikan parameter nameserver 127.0.0.1. Menggunakan perintah dig
harus dapat me-resolve domain yang dibuat.
Proses yang membuat
rumit DNS adalah memastikan bahwa antar Domain saling mengenal satu
sama lain. Hal ini dilakukan oleh komputer fasilitator yang berfungsi
sebagai DNS pusat. Melalui Webmain di komputer fasilitator di buat
Forward Zone ke masing-masing domain di komputer peserta. Selanjutnya
peserta harus mengedit file /etc/resolv.conf dan mengarahkan nameserver
ke IP address komputer fasilitator.
Pada titik ini maka semua
komputer yang settingnya benar akan dapat saling meresolve DNS komputer
lain. Termasuk dapat meresolve informasi Mail Exchange (MX) yang
dibutuhkan untuk berkirim e-mail.
Membuat webmail tidak terlalu
sulit di Ubuntu. Untuk membuat mail server saja, Kita hanya perlu
menginstall postfix, dovecot-imapd dan dovecot-pop3d. Agar mail
tersebut dapat di akses melalui Web, kita perlu menginstalasi Apache2
dan squirrelmail. Semua menggunakan perintah instalasi Debian yaitu
apt-get.
Pada titik ini biasanya kita dapat mentest mail server
yang digunakan menggunakan software seperti evolution atau Thunderbird.
Bagi mereka yang masih menggunakan Windows dapat menggunakan software
seperti Outlook Express.
Sedikit tuning yang perlu di lakukan
adalah mengcopy file /etc/squirrelmail/apache.conf ke folder
/etc/apache2/conf.d/ agar Webmail dapat di akses dari
http://ip-server/squirrelmail/
Agar kita memastikan bahwa mail
dari luar dapat masuk dengan baik kita perlu mengedit file
/etc/postfix/main.cf dan memastikan bahwa parameter myhostname,
mydestination isinya benar. Biasanya mynetworks juga di remarks agar
membuka kemungkinan server lain berbicara ke SMTP server yang kita
bangun.
Sampai disini mail server dan Webmail biasanya sudah
berjalan dengan baik. Kita dapat berkirim mail secara lokal, kita juga
dapat mengirim dan menerima mail ke komputer lain layaknya Internet
biasa. Fasilitas ini sangat dibutuhkan karena selama ini rekan-rekan
dari Asosiasi ICT Timor Leste lebih banyak menggunakan Yahoo.com untuk
berkirim e-mail yang menyebabkan komunikasi Internet menjadi mahal.
Membuat
mail server yang dapat berkomunikasi satu sama lain ternyata memakan
waktu yang sangat lama hampir setengah hari penuh. Itupun hanya tiga
komputer yang survive sampai dapat berkomunikasi satu sama lain. Oleh
karena itu metode workshop selanjutnya lebih banyak dilakukan bentuk
demonstrasi.
Demo selanjutnya lebih banyak berkisar pada Content Management System (CMS) yang berbasis Web. Pada dasarnya Instalasi CMS sangat mudah sekali, yang perlu dilakukan adalah,
- mengkopisource code CMS ke folder web di /var/www
- mengextract source code CMS di folder Web
- menyiapkan Database server, MySQL, untuk CMS tersebut
- memberitahu CMS data dari database server yang harus digunakan
- biasanya diakhiri dengan mengkonfigurasi Web CMS sedikit.
Beberapa
CMS yang berhasil didemonstrasikan adalah instalasi Joomla, instalasi
Moodle, instalasi Wordpress, instalasi KnowledgeTree, dan instalasi
MediaWiki.
Wajanbolic ala Timor Leste
Di
sore hari, workshop dilanjutkan dengan membuat sendiri Antenna
Wajanbolic. Secara umum teknik perhitungan Wajanbolic yang digunakan
tidak berbeda jauh dengan Wajanbolic e-goen.
Namun dengan
keterbatasan peralatan dan sarana yang ada di Timor Leste, Lemi harus
memodifikasi teknik membuat antenna wajanbolic menggunakan kertas
aluminium foil yang di lem menggunakan lem pralon, maka jadilah metoda
Lemi dalam membuat Wajanbolic Timor Leste.
Selanjutnya
dijelaskan teknik-teknik perhitungan Wireless Network mulai dari konsep
power dBm, Free Space Loss di udara, Fresnel Zone Clearance hingga
akhirnya dapat menghitung System Operating Margin dan dapat memastikan
jarak komunikasi menggunakan Wajanbolic yang hampir 4 km-an.
Setelah
mengerti perhitungan pada link Wireless. Peserta kemudian mulai
dijelaskan teknik merancang jaringan wireless di sebuah kota atau di
kenal sebagai Metropolitan Area Network (MAN). Diperkenalkan konsep
Frekuensi Ortogonal/Non-Overlapping Frequency, yaitu, kombinasi channel
1, 6, 11 atau channel 1, 5, 9, 13. Penggunaan polarisasi antena untuk
melakukan separasi. Disain sel di sebuah kota menggunakan tower antenna
omni, menggunakan antenna sektoral baik dengan 3 channel non-overlap
atau 4 channel non-overlap. Menjadi jelas pula mengapa penggunaan
antenna sektoral membuat sistem menjadi lebih effisien.
Terakhir
di malam harinya, mulai di perkenalkan teknik instalasi Mikrotik di
komputer. Maupun penggunakan Router board yang sudah jadi dengan
peralatan Wireless-nya. Kebetulan router board yang dibawa adalah dari
UFOAkses http://www.ufoakses.co.id.
Proses konfigurasi mini-ISP
menggunakan mikrotik dijelaskan dengan demo konfigurasi melalui Winbox
mulai dari pengenalan Interface, Setup Wireless Network, Setup IP
address, dan setup NAT maupun DHCP Server jika dibutuhkan. Satu hal
yang sangat penting pada sebuah ISP adalah bandwidth manajemen melalui
menu queue di jelaskan teknik memanaje bandwidth menggunakan mikrotik.
Terus
terang dengan adanya Mikrotik membuat proses konfigurasi sebuah router
bahkan ISP kecil menjadi sangat mudah dan murah untuk dilakukan sendiri.
Mau Workshop TIK, Disambut 'Letusan Senjata' Jakarta - Helikopter berseliweran setiap 1-2 jam
sekali di atas hotel tempat Onno W. Purbo menginap. Rasanya di pagi
hari, Onno W. Purbo mendengar rentetan letusan senjata atau mercon.
Entahlah, maklum belum pernah berada di lokasi peperangan. Walaupun
kata teman-teman di ICT-TL kemungkinan itu bukan letusan senjata,
karena letusan senjata pasti akan terdengar di seluruh Dili.
Pagi
29 Januari, acara workshop ICT dibuka oleh Flavio Neves Direktur ICT
Pemerintah dari kementrian Transportasi dan Telekomunikasi Timor Leste
serta didampingi kordinator umum asosiasi ICT Timor Leste Abel Pires da
Silva. Direktur ICT rasanya pernah bertemu dengan Onno di sebuah acara
yang di selenggarakan oleh MIMOS di Malaka, Malaysia beberapa tahun
berselang.
Pada kesempatan pembukaan acara sempat didemokan
sedikit apa yang akan diberikan kepada rekan-rekan di Timor Leste,
meliputi Linux, VoIP dan Wireless Network. Pak Direktur cukup
terkaget-kaget pada saat didemokan handphone tanpa sim card dan juga
rekan Oscar dari Timor Leste mendemokan menelepon dari laptop-nya ke
handphone beliau.
Seharian kami berjuang untuk menginstalasi
Asterisk di Ubuntu yang terinstall di mesin Pentium III jadul heheh.
Ternyata tidak mudah untuk langsung terjun menginstalasi sentral
telepon ke komunitas yang sebagian masih sama sekali belum pernah
memegang Linux.
Teknik pertama yang diajarkan adalah men-set
jaringan di Linux, menset IP address interface jartingan, cek sambung
menggunakan ping. Dari teknik ini langsung kita mengetahui komputer
mana yang tidak tersambung.
Di sisi instruktur agak repot,
karena kami harus menginstalasi repository lokal ubuntu dari iso 5 DVD
Ubuntu repository yang diperoleh dari Juragan kambing
http://juragan.kambing.ui.edu
Melatih TIK di Tempat Bekas Kerusuhan Timor Leste - Atas undangan rekan-rekan dari forum ICT
Timor Leste, seperti Ray da Silva dan Lemi. Pada 28 Januari 2008, Onno
W. Purbo berangkat ke Dili dari Jakarta melalui Denpasar Bali
menggunakan pesawat Merpati tipe Boing 737-200. Pesawat Merpati tiba di
Dili sekitar jam 1-2 siang di Airport Dili yang berbatasan secara
langsung dengan pantai.
Airport Dili sangat menarik, terlihat
ada sekitar 8 helikopter tempur kelas black hawk Amerika Serikat parkir
di apron, tempat parkiran pesawat di airport Dili, Di samping 8
helikopter tempur tersebut, terdapat beberapa heli lain yang ada dalam
hanggar darurat.
Tidak jauh dari tempat helikopter tersebut
terdapat 'kompleks' militer kecil di lokasi airport. Instalasi dan
peralatan militer tersebut tampaknya dioperasikan oleh kesatuan dari
Australia dengan bendera PBB/UN. Tampaknya siaga militer masih cukup
tinggi di Timor Leste. Belakangan saya ketahui dari rekan-rekan ICT-TL
bahwa helikopter black hawk tersebut jarang digunakan untuk bertempur
lebih banyak untuk show force saja, dan melakukan patroli.
Turun
dari pesawat, berjalan kaki melalui selasar ke gedung terminal.
Langsung di hadapan kami ada tempat untuk memperoleh Visa on Arrival
dengan membayar US$30. Tanpa diminta atau ditanya macam-macam. Oya,
tampaknya mata uang di Timor Leste adalah mata uang US$ (dollar
Amerika) semua. Belakangan saya ketahui dari rekan-rekan ICT-TL bahwa
memang mata uang Timor Leste adalah US$, menarik untuk disimak bagi
negara sekecil ini ternyata memang lebih menarik menggunakan mata uang
US$ daripada membuat mata uang sendiri.
Imigrasi Timor Leste di
Airport dapat dilalui dengan mudah dengan memperlihatkan surat undangan
yang diperoleh dari ICT Timor Leste. Tanpa banyak menunggu lama,
setelah memperoleh semua peralatan di bagasi saya keluar dari Airport
langsung melihat wajah Ray dan Lemi yang berseri-seri di luar gedung
bandara.
Kami langsung berangkat menuju hotel untuk cek-in
dan meletakkan pakaian. Pada saat keluar dari Airport kami melihat
banyak tenda-tenda pengungsi lokal Timor Leste di Airport. Menurut
teman-teman ICT-TL mereka adalah pengungsi pada saat kerusuhan 2006
lalu. Sampai hari ini masih saja mengungsi padahal kerusuhan sudah
tidak ada.
Sesudah cek-in dan meletakan pakaian di
hotel, kami langsung menuju kantor ICT Timor Leste tempat Lemi bekerja
dan tempat acara akan di lakukan esok harinya,
Pada sore itu,
kami mempersiapkan semua peralatan yang ingin digunakan untuk workshop,
terutama membangun LAN, membangun server repository Ubuntu dan
membangun sedikit demo untuk acara pembukaan.
Lemi sempat bercerita sedih tentang ICT Timor Leste yang tempat training-nya sempat dijarah, dibakar pada masa kerusuhan tahun lalu. Sekarang mereka membangun kembali tempat training-nya dari bawah.
Yang
akan menjadikan training ini menarik adalah kami harus berjuang dengan
waktu karena listrik dapat mati sewaktu-waktu, beberapa kali dalam
sehari. Di samping akses Internet yang relatif mahal.
|