|
- Bahasa: Indonesia - Format file: PDF - Publisher: IlmuKomputer.Com - Tahun terbit: Juli 2003 - Download makalah lengkap: internet.zip
Menarikmelihat perkembangan ISP di Indonesia. Setelah dilanda "krismon" yangbanyak mendera sektor HighTech- yang notabene semuanya Import, ISPlokal satu-persatu mulai menghitung-hitung kembali pada titik/biaya danskala bisnis berapa dia reasonable untuk beroperasi. Komponen cost yangcukup besar bagi ISP tentunya biaya infrastruktur, biaya telekomunikasi(backbone), dan biaya Internet Access ke Global ISP. Biaya ini berkisarpuluhan atau ratusan juta rupiah yang tentu saja harus dikeluarkansetiap bulannya. Banyak jurus-jurus yang dikerluarkan, salah satunyamungkin menganti "Upstream" provider, atau berkoalisi dalam konsorsium.
Banyak beredar "isyu" bahwa beberapa ISP- yangbelum tentu benar, secara diam-diam menurunkan kapasitas backbonenya keGlobal ISP, saat harga dollar terhadap rupiah gonjang-ganjing. Tentusaja disini pelanggan (baik corporate ataupun retail) tidak punyakemampuan untuk tahu permasalahan tersebut. Hal ini memang disebabkanoleh dua hal: (1) Memang tidak ada tools secara langsung untukmengetahui itu, dan (2) ISP juga tidak akan mau memberitahu haltersebut kepada pelanggannya. Yang jelas jika ISP menurunkan kapasitasbackbonenya, dan itu menyebabkan dia overload (utilisasi backbone lebihdari 90% pada peak time), maka bagi pelanggan (yaitu Anda sendiri) efekyang dirasakan adalah lambatnya akses internet. Memang hal ini tidakbisa digeneralisir, karena Internet merupakan suatu mata rantai antararatusan atau ribuan Router. Jadi jika akses internet Anda lambat bisajuga karena link Anda ke ISP sudah overload, ISP Anda ke Global ISPoverload, atau situs yang dituju memang overload. |